Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya secara tegas meminta seluruh pemerintah daerah (Pemda) di Indonesia untuk menjadikan program penghijauan sebagai sebuah gerakan yang sifatnya berkelanjutan. Dorongan ini tidak hanya sebatas penanaman pohon, melainkan sebuah inisiatif komprehensif yang mengedepankan kolaborasi multi-pihak dan perawatan jangka panjang agar dampaknya benar-benar terasa nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Pernyataan ini menegaskan kembali komitmen pemerintah pusat terhadap agenda pembangunan berkelanjutan dan resiliensi iklim di tingkat lokal.
Mengapa Penghijauan Berkelanjutan Penting?
Inisiatif penghijauan kerap kali menjadi program musiman yang terbatas pada momentum tertentu. Bima Arya menekankan bahwa paradigma tersebut harus berubah. Penghijauan berkelanjutan berarti mengintegrasikan elemen hijau ke dalam rencana tata ruang kota, menyediakan anggaran khusus untuk pemeliharaan, serta membangun kesadaran kolektif. Keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) yang memadai dan terawat memiliki peran krusial dalam menghadapi tantangan perkotaan.
Pohon-pohon dan vegetasi lainnya berfungsi sebagai paru-paru kota, menyaring polusi udara, mengurangi efek pulau panas perkotaan, serta berkontribusi pada penyerapan karbon dioksida. Lebih dari itu, RTH juga menjadi ruang interaksi sosial, meningkatkan kualitas hidup, dan bahkan berpotensi mengurangi risiko bencana seperti banjir dan tanah longsor.
Pusat Data dan Informasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) [ sumber ] seringkali merilis data yang menunjukkan bahwa cakupan RTH di banyak kota besar masih jauh dari target ideal 30% dari luas wilayah. Kondisi ini diperparah oleh laju urbanisasi dan pembangunan infrastruktur yang pesat, seringkali mengorbankan lahan hijau. Oleh karena itu, seruan Bima Arya ini relevan dan mendesak untuk segera diimplementasikan.
Kunci Sukses: Kolaborasi dan Perawatan Maksimal
Bima Arya secara eksplisit menyoroti dua pilar utama keberhasilan gerakan penghijauan berkelanjutan: kolaborasi dan perawatan.
-
Kolaborasi Multisector
Kolaborasi tidak hanya terjadi antarlembaga pemerintah, tetapi juga melibatkan berbagai pihak di luar pemerintahan:
- Lintas Sektor Pemda: Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman harus bersinergi dalam perencanaan, pengadaan bibit, penanaman, hingga pemeliharaan.
- Swasta dan Komunitas: Perusahaan dapat berpartisipasi melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), sementara komunitas lokal dan organisasi masyarakat sipil menjadi garda terdepan dalam menjaga dan merawat lingkungan sekitar mereka. Edukasi publik mengenai pentingnya penghijauan juga menjadi bagian tak terpisahkan.
- Akademisi dan Peneliti: Dukungan dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian dapat memberikan inovasi dalam pemilihan jenis tanaman yang cocok dengan kondisi iklim lokal, metode penanaman efektif, hingga solusi pengelolaan air yang efisien.
-
Perawatan Jangka Panjang
Penanaman saja tidak cukup. Banyak proyek penghijauan gagal karena minimnya perawatan pasca-tanam. Pemda harus memastikan ketersediaan sumber daya manusia dan anggaran yang memadai untuk:
- Penyiraman rutin, pemupukan, dan pemangkasan yang tepat.
- Pengendalian hama dan penyakit yang dapat merusak vegetasi.
- Penggantian tanaman yang mati atau tidak tumbuh optimal.
- Pengawasan partisipatif dari masyarakat juga krusial untuk mencegah vandalisme dan memastikan keberlanjutan investasi hijau.
Dorongan dari Wamendagri ini sejalan dengan berbagai inisiatif sebelumnya yang pernah digalakkan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Beberapa waktu lalu, perhatian terhadap isu lingkungan juga mengemuka dalam diskusi mengenai strategi adaptasi perubahan iklim di tingkat lokal, sebagaimana pernah dibahas dalam artikel kami “Tantangan Adaptasi Iklim: Mengubah Ancaman Menjadi Peluang di Daerah”. Pernyataan Bima Arya kali ini semakin menguatkan bahwa upaya mitigasi dan adaptasi harus menjadi prioritas berkelanjutan yang terintegrasi dalam setiap aspek pembangunan daerah.
Mewujudkan gerakan penghijauan yang berkelanjutan memerlukan visi jangka panjang, kepemimpinan yang kuat dari Pemda, serta partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat. Ini bukan sekadar program hijau, melainkan investasi strategis untuk kualitas hidup generasi kini dan mendatang. Dengan pendekatan holistik yang mencakup perencanaan matang, implementasi kolaboratif, dan perawatan konsisten, impian kota-kota hijau yang sehat dan lestari bukan lagi sekadar retorika, melainkan sebuah realita yang dapat dicapai bersama.
