Pasca Gempa Flores, Ribuan Warga Selayar Kembali ke Rumah, Sebagian Masih Bertahan di Ketinggian
Ribuan warga di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, telah memulai proses kembali ke kediaman masing-masing. Keputusan ini diambil setelah situasi di wilayah tersebut dinyatakan kondusif pasca gempa bumi berkekuatan magnitudo 7.4 yang mengguncang Laut Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), beberapa waktu lalu. Meskipun demikian, pantauan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian kecil warga masih memilih untuk bertahan di wilayah pegunungan dan perbukitan sebagai langkah antisipasi dan trauma.
Peristiwa gempa yang berpusat di Laut Flores ini sempat memicu peringatan dini tsunami, menyebabkan kepanikan massal dan evakuasi ribuan penduduk Selayar yang tinggal di pesisir. Otoritas setempat terus memastikan keamanan dan kenyamanan warga dalam proses pemulihan pasca bencana.
Kondisi Terkini dan Proses Kembali ke Kediaman
Proses kembalinya warga ke rumah berlangsung secara bertahap sejak beberapa hari terakhir. Pemerintah daerah, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Selayar dan unsur TNI/Polri, terus memantau pergerakan dan memberikan jaminan keamanan. Kepala BPBD Kepulauan Selayar, Abdul Gani, menyatakan bahwa sebagian besar warga yang sebelumnya mengungsi ke tempat-tempat aman kini sudah berada di rumah.
“Alhamdulillah, situasi sudah sangat kondusif. Mayoritas warga sudah kembali ke rumah masing-masing setelah kami pastikan tidak ada lagi ancaman dan setelah BMKG mencabut peringatan dini tsunami. Kami terus melakukan patroli dan edukasi kepada masyarakat,” ujar Abdul Gani dalam keterangannya. Fokus saat ini adalah memastikan tidak ada kerusakan signifikan pada infrastruktur vital dan mendata kebutuhan dasar masyarakat.
Meskipun demikian, terdapat laporan bahwa sejumlah keluarga, khususnya dari daerah pesisir yang paling terdampak trauma, masih bertahan di tenda-tenda pengungsian darurat yang didirikan di daerah perbukitan atau di rumah kerabat di dataran lebih tinggi. Mereka memilih untuk menunggu beberapa waktu lagi atau hingga keyakinan akan keamanan benar-benar pulih sepenuhnya. Pemerintah daerah terus memberikan bantuan logistik dan dukungan psikososial kepada kelompok ini.
Kronologi Gempa dan Dampak di Selayar
Gempa bumi berkekuatan M 7.4 terjadi pada Selasa, 14 Desember 2021, pukul 10.20 WIB dengan kedalaman 10 km. Pusat gempa berada di 112 km Barat Laut Larantuka, Flores Timur, NTT. Guncangan kuat terasa hingga ke berbagai wilayah, termasuk Makassar, Kendari, bahkan Darwin, Australia. Kepulauan Selayar menjadi salah satu daerah yang menerima dampak guncangan cukup kuat dan berada dalam radius potensi tsunami.
Peringatan dini tsunami yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memicu respon cepat dari warga Selayar, khususnya yang bermukim di pesisir barat dan utara pulau. Ribuan jiwa segera bergerak menuju dataran tinggi dan perbukitan, termasuk daerah pegunungan di tengah pulau. Meski peringatan tsunami akhirnya dicabut, pengalaman tersebut meninggalkan jejak trauma yang tidak sedikit bagi sebagian masyarakat.
Berdasarkan data awal, kerusakan fisik di Kepulauan Selayar dilaporkan relatif minim, mayoritas berupa retakan ringan pada bangunan dan fasilitas umum. Namun, gangguan pada jaringan listrik dan komunikasi sempat terjadi di beberapa titik, memperlambat proses evakuasi dan koordinasi awal. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga bergerak cepat mengirimkan bantuan dan tim peninjau ke lokasi kejadian. Laporan sebelumnya dari Kompas.com mengindikasikan bahwa evakuasi massal ke pegunungan menjadi respons cepat warga kala itu.
Peran Pemerintah dan Bantuan Pemulihan
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar, didukung oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan elemen terkait lainnya, memainkan peran krusial dalam penanganan pasca-gempa. Posko-posko pengungsian darurat telah disiapkan, distribusi bantuan makanan, air bersih, selimut, dan obat-obatan terus dilakukan. Tim medis dan relawan juga diterjunkan untuk memberikan layanan kesehatan dan dukungan psikologis kepada warga, terutama anak-anak dan lansia.
“Kami bersyukur atas sinergi yang baik antara pemerintah pusat, provinsi, dan daerah, serta dukungan dari berbagai pihak dan relawan. Prioritas kami adalah memastikan warga dapat kembali beraktivitas normal dengan rasa aman,” tutur Bupati Kepulauan Selayar, Basli Ali. Evaluasi kerusakan infrastruktur juga terus berjalan untuk segera dilakukan perbaikan demi mendukung aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.
Membangun Ketahanan Bencana di Selayar
Insiden gempa bumi Laut Flores dan dampaknya terhadap Kepulauan Selayar menjadi pengingat penting akan posisi geografis Indonesia yang rawan bencana. Wilayah Kepulauan Selayar, yang berada di jalur cincin api Pasifik, secara inheren rentan terhadap gempa bumi dan potensi tsunami.
Pelajaran dari pengalaman ini adalah pentingnya penguatan sistem mitigasi bencana, edukasi masyarakat tentang jalur evakuasi dan tempat aman, serta latihan simulasi bencana secara berkala. Peningkatan kapasitas BPBD dalam merespons cepat dan efektif juga menjadi kunci. Pemerintah daerah bersama masyarakat diharapkan dapat terus bekerja sama membangun kesadaran dan ketahanan bencana yang lebih baik di masa mendatang.
