LARANTUKA – Ribuan warga di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya mereka yang masih berstatus pengungsi akibat erupsi Gunung Lewotobi, kini menghadapi ancaman ganda. Setelah hampir dua tahun berjuang memulihkan hidup pasca-letusan gunung berapi, mereka kini harus dihantui dampak guncangan gempa bumi yang melanda wilayah tersebut. Kondisi ini secara signifikan memperparah trauma psikologis dan menghambat segala upaya pemulihan yang telah berjalan.
Dua Tahun Menanti Pulih, Kini Terguncang Lagi
Sejak akhir 2022, ketika Gunung Lewotobi Laki-Laki mulai menunjukkan peningkatan aktivitas yang signifikan dan memuncak pada letusan masif, ribuan penduduk di sekitar lereng gunung terpaksa mengungsi. Mereka meninggalkan rumah dan harta benda, berpindah ke tenda-tenda pengungsian atau menumpang di rumah kerabat. Proses rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan lambat, diperparah dengan status gunung yang kerap tidak stabil, menghalangi mereka untuk kembali ke kampung halaman secara permanen.
Hampir dua tahun berlalu, sebagian besar pengungsi masih mendiami fasilitas sementara. Hidup dalam ketidakpastian telah menjadi bagian dari rutinitas mereka. Anak-anak kesulitan bersekolah, mata pencaharian terhenti, dan kesehatan mental terganggu. “Kami masih takut kalau ada gempa lagi,” ujar salah seorang warga yang tidak ingin disebutkan namanya, mengungkapkan kecemasan yang mendalam. Ketakutan ini bukan hanya atas guncangan fisik, melainkan juga simbol dari rapuhnya harapan mereka akan kehidupan normal.
Guncangan Gempa Perparah Trauma dan Hambat Pemulihan
Ketika gempa bumi mengguncang Pulau Flores, hal ini tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga memicu kembali trauma yang mendalam bagi para penyintas erupsi Lewotobi. Bangunan-bangunan sementara yang mereka tinggali, seperti tenda atau barak pengungsian, rentan terhadap guncangan. Ancaman runtuhnya struktur ini menambah beban kekhawatiran yang sudah ada.
Dampak psikologis menjadi sangat krusial. Rasa aman yang baru sedikit tumbuh, kini kembali terkikis oleh guncangan gempa. Banyak warga yang mengalami gejala stres pascatrauma, termasuk kesulitan tidur, kecemasan berlebihan, dan flashback akan bencana sebelumnya. Konsentrasi bantuan dan fokus pemerintah daerah juga berpotensi terpecah, dari yang awalnya terkonsentrasi pada penanganan erupsi, kini harus juga menangani dampak gempa di wilayah lain di Flores.
Situasi ini menimbulkan tantangan besar dalam upaya pemulihan berkelanjutan. Infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan yang mungkin rusak akibat gempa akan semakin mempersulit distribusi logistik dan bantuan. Selain itu, anak-anak di pengungsian menghadapi gangguan ganda pada pendidikan mereka, memperburuk masa depan generasi yang terdampak bencana beruntun ini.
Urgensi Penanganan Bencana Beruntun dan Pemulihan Berkelanjutan
Pemerintah dan lembaga kemanusiaan perlu segera mengadopsi pendekatan terintegrasi dalam penanganan bencana beruntun ini. Prioritas utama harus mencakup tidak hanya bantuan darurat, tetapi juga dukungan psikososial yang berkelanjutan bagi para penyintas. Program pemulihan yang adaptif dan komprehensif sangat diperlukan, mempertimbangkan kondisi geografis Flores yang memang rawan bencana.
Kondisi ini menegaskan pentingnya sistem mitigasi bencana yang kuat, termasuk edukasi masyarakat dan pembangunan infrastruktur tahan gempa serta erupsi. Lebih lanjut, keberlanjutan dukungan finansial dan kebijakan yang berpihak pada penyintas adalah kunci untuk membantu mereka membangun kembali kehidupan dengan martabat. Kejadian ini menjadi pengingat pahit akan kerentanan masyarakat di zona rawan bencana dan urgensi untuk selalu siap menghadapi potensi ancaman yang tak terduga. Situasi warga yang belum bisa kembali ke rumah akibat erupsi Lewotobi menjadi preseden yang menunjukkan panjangnya jalan pemulihan pascabencana.
