Judul Artikel Kamu

Prabowo Gaungkan ‘Jas Hijau’ di Muktamar NU, Kenang Jasa Ulama untuk Kemerdekaan RI

Prabowo Gaungkan ‘Jas Hijau’ di Muktamar NU, Kenang Jasa Ulama untuk Kemerdekaan RI

Presiden terpilih Prabowo Subianto mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak melupakan jasa besar para ulama dalam membangun dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam pidatonya di forum Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), Prabowo dengan tegas menggaungkan ungkapan “Jas Hijau”, sebuah akronim yang ia definisikan sebagai “Jangan Lupakan Jasa Ulama”, paralel dengan adagium populer Bung Karno, “Jas Merah”. Pernyataan ini menegaskan kembali pengakuan negara terhadap kontribusi tak ternilai para ulama, khususnya dari kalangan NU, dalam membentuk karakter dan fondasi bangsa.

Mengulas Makna di Balik ‘Jas Hijau’ Prabowo

Ungkapan “Jas Merah” atau “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah” yang dipopulerkan oleh Presiden Pertama RI, Soekarno, telah menjadi adagium penting dalam historiografi bangsa. Prabowo kini menyandingkan semangat tersebut dengan “Jas Hijau”, secara spesifik menyoroti kontribusi tak ternilai dari para ulama. Pemilihan warna hijau secara simbolis sangat relevan dengan Nahdlatul Ulama, yang identik dengan warna tersebut sebagai lambang kesuburan, kedamaian, dan Islam nusantara yang moderat.

Ini bukan sekadar retorika politik, melainkan penegasan akan pengakuan negara terhadap peran historis dan kontemporer ulama dalam membentuk karakter bangsa. Prabowo secara eksplisit mengingatkan kita tentang pentingnya:

  • Mengenang perjuangan ulama yang tidak hanya berdakwah, tetapi juga turut serta mengangkat senjata.
  • Memahami peran ulama dalam pendidikan dan pencerahan masyarakat di masa penjajahan.
  • Melanjutkan semangat persatuan dan nasionalisme yang diajarkan oleh para ulama terdahulu.

Pernyataan ini menunjukkan upaya Prabowo untuk memperkuat ikatan dengan kelompok religius, khususnya basis massa NU yang sangat besar dan berpengaruh di Indonesia. Ini merupakan langkah strategis untuk merangkul berbagai lapisan masyarakat dalam visi kepemimpinannya ke depan.

Peran Krusial Ulama dalam Sejarah Bangsa Indonesia

Sejarah mencatat bahwa peran ulama tidak terbatas pada ranah spiritual semata, melainkan juga merambah ke medan perjuangan fisik dan intelektual demi kemerdekaan. Banyak ulama menjadi motor penggerak perlawanan terhadap kolonialisme, tidak hanya melalui mimbar ceramah, tetapi juga di garis depan pertempuran. Berikut adalah beberapa kontribusi kunci:

* Pendidikan dan Kesadaran Nasional: Ulama mendirikan pondok pesantren dan madrasah yang tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga menanamkan semangat nasionalisme dan perlawanan terhadap kolonialisme. Mereka menjadi pusat pendidikan dan pencerahan di tengah keterbatasan akses pendidikan formal. Kurikulum pesantren seringkali menyelipkan pelajaran tentang cinta tanah air dan pentingnya mempertahankan martabat bangsa.
* Resolusi Jihad NU: Salah satu puncak kontribusi ulama adalah fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Fatwa ini mengobarkan semangat perjuangan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan dari agresi Sekutu dan Belanda. Resolusi Jihad, yang menyerukan kewajiban berjihad mempertahankan kemerdekaan, menjadi dasar pertempuran 10 November di Surabaya yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Ini menunjukkan keberanian ulama dalam mengambil sikap tegas di momen krusial sejarah bangsa. (Baca lebih lanjut tentang Resolusi Jihad NU)
* Pembentukan Karakter Bangsa: Selain perjuangan fisik, para ulama juga berperan aktif dalam merumuskan dasar negara dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pasca-kemerdekaan, melalui pemikiran-pemikiran kebangsaan yang inklusif dan moderat. Mereka turut serta dalam berbagai sidang badan pembentuk negara, memastikan bahwa nilai-nilai agama dan kebangsaan selaras.

Konsistensi Prabowo dalam Menghargai Ulama

Pernyataan “Jas Hijau” ini bukanlah kali pertama Prabowo Subianto menunjukkan apresiasinya terhadap ulama dan tokoh agama. Selama masa kampanye presiden dan bahkan sebelumnya, Prabowo seringkali menekankan pentingnya peran para kiai, habaib, dan tokoh agama dalam menjaga moral bangsa dan mengawal pembangunan. Keterlibatannya dalam berbagai acara keagamaan dan kunjungannya ke pesantren-pesantren besar memperkuat citra dirinya sebagai pemimpin yang peduli terhadap nilai-nilai agama dan komunitas Muslim.

Konsistensi ini juga dapat dilihat dari berbagai artikel sebelumnya yang mengangkat kunjungan Prabowo ke pesantren-pesantren terkemuka dan dialognya dengan para ulama, seperti dalam laporan kami tentang “Prabowo Gencar Kunjungi Tokoh Agama, Perkuat Jalinan dengan Pesantren”. Ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintahannya kelak akan terus melibatkan dan memperhatikan masukan dari para ulama dalam perumusan kebijakan-kebijakan strategis nasional, menunjukkan komitmen terhadap dialog lintas sektor dan kemitraan dalam membangun bangsa.

Implikasi ‘Jas Hijau’ bagi Kepemimpinan Nasional

Pengarusutamaan narasi “Jas Hijau” oleh seorang Presiden terpilih membawa implikasi signifikan bagi arah kepemimpinan nasional ke depan. Pesan ini bukan hanya retrospektif, tetapi juga prospektif, membentuk narasi yang kuat untuk masa jabatan Prabowo:

* Penguatan Identitas Nasional: Ini menegaskan kembali bahwa nilai-nilai keislaman moderat yang diusung ulama adalah bagian integral dari identitas kebangsaan Indonesia, mencerminkan keragaman dan kekayaan budaya spiritual bangsa.
* Dialog dan Keterlibatan: Menjadi landasan bagi pemerintah untuk lebih aktif menjalin dialog dan melibatkan ulama dalam berbagai isu kenegaraan, mulai dari pembangunan sosial, pendidikan karakter, hingga menjaga kerukunan antarumat beragama. Ini membuka peluang kolaborasi yang lebih erat.
* Pesan Persatuan: Dalam konteks pasca-pemilu yang terkadang memecah belah, pesan “Jas Hijau” juga berfungsi sebagai seruan persatuan. Ini mengingatkan bahwa di atas segala perbedaan politik, ada sejarah bersama dan tujuan nasional yang lebih besar yang dirajut bersama oleh berbagai elemen bangsa, termasuk para ulama. Pesan ini mendorong semua pihak untuk bersatu demi kemajuan bangsa.

Ajakan “Jas Hijau” dari Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar jargon, melainkan sebuah pengingat fundamental akan utang sejarah bangsa kepada para ulama. Ini adalah seruan untuk terus menjaga nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan, sekaligus membangun masa depan Indonesia yang lebih adil, makmur, dan beradab dengan merujuk pada kearifan lokal dan spiritual. Mengenang jasa ulama berarti juga memastikan warisan perjuangan mereka tidak lekang oleh zaman, dan terus menjadi inspirasi bagi generasi mendatang dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan bangsa.