Judul Artikel Kamu

Tim Gabungan Kendalikan Kebakaran Lahan Gambut Tiga Hektare di Sangatta, Waspadai Bara Membandel

SANGATTA – Petugas gabungan berjibaku memadamkan kebakaran yang melanda sekitar tiga hektare lahan gambut di Jalan Swadaya Ujung, RT 35, Kelurahan Singa Geweh, Kecamatan Sangatta Selatan, Kutai Timur, pada Minggu (30/8/2026). Meskipun api di permukaan berhasil dikendalikan secara signifikan, tim penanganan darurat masih mewaspadai potensi bara yang bertahan di bawah permukaan tanah, sebuah karakteristik berbahaya dari kebakaran gambut yang sering memicu penyalaan kembali.

Insiden ini pertama kali terdeteksi sekitar pukul 16.10 WITA. Tiupan angin yang cukup kencang pada saat kejadian mempercepat laju penyebaran api, membuat petugas harus bekerja ekstra keras untuk mengisolasi area yang terbakar dan mencegah perambatan lebih lanjut ke area permukiman atau hutan lindung di sekitarnya. Puluhan personel dari berbagai lembaga, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Timur, Manggala Agni, TNI, Polri, serta relawan masyarakat, terlibat aktif dalam operasi pemadaman yang berlangsung hingga malam hari.

Kronologi dan Upaya Pemadaman Intensif

Tim gabungan segera merespons laporan kebakaran dengan mengerahkan unit pemadam kebakaran dan peralatan pendukung yang memadai. Tantangan utama yang mereka hadapi adalah akses menuju lokasi yang sulit dijangkau, serta sifat lahan gambut yang sangat mudah terbakar dan mampu menyimpan bara api di dalam lapisan tanahnya yang tebal. Dengan menggunakan selang air bertekanan tinggi dan peralatan sekop, petugas berupaya membasahi lahan secara menyeluruh, tidak hanya pada bagian yang terlihat terbakar di permukaan, tetapi juga memastikan air meresap jauh ke dalam lapisan gambut untuk memadamkan bara yang tersembunyi secara efektif.

Menurut Kepala BPBD Kutai Timur, Drs. Ahmad Wijaya (nama fiktif untuk ilustrasi), proses pemadaman memerlukan ketelitian dan kesabaran ekstra. “Kami fokus tidak hanya pada api yang terlihat di permukaan, tetapi juga pada pembasahan menyeluruh tanah gambut hingga ke lapisan dalamnya. Angin kencang menjadi faktor yang sangat mempercepat sebaran api di awal kejadian. Syukurlah, berkat kerja keras dan koordinasi antar tim, api permukaan berhasil kita kuasai sepenuhnya,” ungkap Ahmad Wijaya di lokasi kejadian, menegaskan efektivitas respons tim.

Ancaman Bara Bawah Tanah yang Persisten

Meskipun api di permukaan telah padam, ancaman bara yang masih menyala di bawah tanah gambut tetap menjadi perhatian serius dan prioritas utama. Bara ini bisa bertahan berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, dan memiliki potensi besar untuk kembali membakar lahan di atasnya jika kondisi lingkungan mendukung, seperti hembusan angin kencang atau periode kekeringan ekstrem yang berkepanjangan. Oleh karena itu, tim gabungan berencana untuk terus melakukan patroli dan pemantauan intensif di lokasi selama beberapa hari ke depan, sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko.

“Pengawasan pasca-pemadaman sangat krusial, terutama untuk kasus kebakaran gambut. Bara di bawah tanah ini layaknya bom waktu yang bisa meledak kapan saja, memicu kembali kobaran api. Kami akan menyisir setiap area terdampak, memastikan tidak ada lagi titik panas yang tersisa, dan melakukan pendinginan berulang secara berkala,” tambah Ahmad Wijaya, menegaskan komitmen pihaknya dalam mitigasi risiko kebakaran lebih lanjut.

  • Pemantauan suhu permukaan tanah secara berkala menggunakan alat deteksi panas.
  • Pembasahan ulang dan penggalian terbatas di area yang dicurigai masih memiliki bara bawah tanah.
  • Penyediaan posko siaga atau tim jaga di dekat lokasi untuk respons cepat terhadap potensi re-ignisi.
  • Edukasi proaktif kepada masyarakat sekitar tentang bahaya dan langkah-langkah pencegahan dini.

Tantangan dan Pentingnya Pencegahan Jangka Panjang

Kejadian kebakaran lahan gambut di Sangatta ini kembali mengingatkan pada serangkaian insiden serupa yang sering melanda wilayah Kutai Timur di musim kemarau. Lahan gambut, dengan karakteristiknya yang kaya bahan organik dan kandungan air yang rendah saat kering, sangat rentan terhadap kebakaran, terutama akibat aktivitas manusia seperti pembakaran lahan untuk persiapan pertanian atau perkebunan, maupun kelalaian seperti membuang puntung rokok sembarangan.

Dampak kebakaran gambut tidak hanya merugikan secara ekonomi dan ekologi, mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga berpotensi menimbulkan kabut asap pekat yang mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas transportasi, dan penerbangan. Oleh karena itu, upaya pencegahan jangka panjang menjadi sangat vital, meliputi sosialisasi bahaya pembakaran lahan, penguatan patroli pencegahan terpadu, serta pemberdayaan masyarakat untuk turut serta menjaga lingkungannya.

Pemerintah daerah dan instansi terkait terus berupaya meningkatkan kapasitas dalam penanganan dan pencegahan kebakaran lahan dan hutan (Karlahut), termasuk dengan membangun menara pantau api, posko siaga di titik-titik rawan, serta pelatihan bagi petugas dan masyarakat. Keterlibatan aktif dan kesadaran dari seluruh elemen masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga Kutai Timur bebas dari bencana asap akibat kebakaran lahan.

Tim gabungan terus berada di lokasi untuk memastikan situasi benar-benar aman dari potensi penyalaan kembali. Kewaspadaan masyarakat sekitar juga diharapkan untuk segera melaporkan jika menemukan indikasi api atau asap di lahan gambut, demi mencegah meluasnya bencana di kemudian hari dan melindungi lingkungan serta kesehatan bersama.