SAMARINDA — Jagat media sosial kembali heboh dengan beredarnya sebuah video viral. Seorang konten kreator Samarinda yang selama ini dikenal sangat vokal mengkritik Gubernur Kaltim, secara mengejutkan melakukan audiensi dengan Kepala Dinas Kehutanan (Kadishut) Provinsi Kalimantan Timur. Manuver tiba-tiba ini sontak memicu perdebatan terkait pilihan sikapnya: tetap menjadi oposisi atau justru bersiap masuk ke pusaran pemerintahan.
Ironi Sikap Oposisi di Tengah Aksi Massa
Sebelumnya, jejak digital sang kreator masih sangat segar dalam ingatan publik. Saat berlangsungnya demonstrasi mahasiswa terkait evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, sosok ini tampil sangat agresif. Yang bersangkutan secara konsisten melontarkan kritik tajam, bahkan menjurus pada olok-olok terhadap kepemimpinan Gubernur Kaltim.
Lebih lanjut, dalam orasi dan kontennya, ia secara terbuka mengajak para demonstran untuk tidak memilih Rudy Masud pada ajang Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2029 mendatang.
Oleh karena itu, manuver pertemuannya dengan pejabat teras pemprov ini memicu reaksi keras. Publik menilai bahwa mestinya para pengkritik Gubernur Kaltim tetap teguh dan konsisten pada jalur oposisi. Setidaknya, mereka harus mempertahankan sikap kritis tersebut hingga Pilgub 2029 tiba, lalu mengajukan kandidat jagoannya untuk bersaing secara ksatria.
Sensitivitas Politik Kadishut Kaltim Ikut Disorot
Di sisi lain, sorotan tajam tidak hanya tertuju pada sang konten kreator Samarinda. Kritikan juga mengarah kepada Kepala Dinas Kehutanan Kaltim yang baru saja dilantik. Sebagai pemangku jabatan eselon II, beliau seharusnya lebih fokus bekerja membantu akselerasi program Gubernur Kaltim.
Selain itu, seorang kepala dinas dituntut untuk memiliki kepekaan tinggi. Mereka harus sadar diri dan paham bagaimana menempatkan posisi di tengah situasi politik daerah yang dinamis.
Bekerja secara profesional melayani semua lapisan masyarakat memang merupakan sebuah keharusan. Namun, menjaga etika birokrasi dan menjaga perasaan pimpinan yang juga manusia biasa adalah hal yang tidak kalah penting. Pada akhirnya, publik berharap aparatur pemerintah mampu lebih cermat dalam menerima tamu yang selama ini secara terbuka mendiskreditkan pimpinan daerah mereka.
