BRASLIA – Kemenangan Luiz Inácio Lula da Silva dalam pemilihan presiden Brasil baru-baru ini telah menandai babak baru dalam sejarah politik negara itu, sekaligus sebuah kebangkitan pribadi yang luar biasa. Mantan pemimpin serikat pekerja yang pernah dipenjara ini sukses mengalahkan petahana Jair Bolsonaro dalam putaran kedua pemilihan presiden, Minggu (30/10/2022). Kemenangan ini mengukuhkan Lula sebagai presiden Brasil untuk ketiga kalinya, sebuah capaian yang menegaskan kembali kekuatan politik dan daya tarik kharismatiknya di hadapan publik Brasil. Perjalanan hidup Lula, dari seorang buruh miskin hingga kembali menduduki kursi kepresidenan, menawarkan kisah ketekunan, kontroversi, dan pengaruh yang tak terhapuskan terhadap negaranya.
Perjalanan Tak Terduga: Dari Pedagang Kaki Lima ke Puncak Kekuasaan
Lahir dari keluarga petani miskin di negara bagian Pernambuco, timur laut Brasil, pada tahun 1945, Luiz Inácio Lula da Silva mengenal kerasnya kehidupan sejak dini. Ia adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara. Pada usia tujuh tahun, keluarganya pindah ke São Paulo, pusat industri yang menjanjikan, untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Di sana, Lula bekerja sebagai penjual kacang di jalanan dan penyemir sepatu untuk membantu menghidupi keluarga. Pendidikan formalnya terbatas; ia keluar dari sekolah setelah kelas lima untuk bekerja penuh waktu.
Perjalanan kariernya dimulai sebagai operator mesin bubut di sebuah pabrik logam. Di sinilah ia mulai menunjukkan ketertarikan pada gerakan buruh. Keterlibatannya dalam serikat pekerja membawanya pada posisi kepemimpinan, dan pada tahun 1975, ia terpilih sebagai presiden Serikat Pekerja Logam São Bernardo do Campo dan Diadema. Di bawah kepemimpinannya, serikat pekerja melakukan serangkaian mogok kerja besar-besaran yang menentang rezim militer saat itu, menjadikannya tokoh nasional dan simbol perlawanan.
Era Presiden: Dua Periode Transformasi (2003-2010)
Setelah beberapa kali mencoba, Lula akhirnya memenangkan pemilihan presiden pada tahun 2002, menjadi presiden pertama Brasil yang berasal dari kelas pekerja. Kemenangan ini menjadi momen bersejarah, membawa harapan besar bagi jutaan warga Brasil yang terpinggirkan. Selama dua periode kepemimpinannya (2003-2010), Lula meluncurkan program-program sosial ambisius yang dikenal sebagai “Fome Zero” (Nol Kelaparan) dan “Bolsa Família”.
- Bolsa Família: Program transfer tunai bersyarat ini memberikan bantuan finansial kepada keluarga miskin dengan imbalan anak-anak mereka harus tetap bersekolah dan mendapatkan vaksinasi. Program ini secara signifikan mengurangi angka kemiskinan ekstrem dan ketidaksetaraan di Brasil.
- Pertumbuhan Ekonomi: Di bawah kepemimpinan Lula, Brasil mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, didorong oleh kenaikan harga komoditas global. Jutaan warga kelas bawah terangkat ke kelas menengah.
- Peran Global: Brasil meningkatkan pengaruhnya di panggung internasional, aktif dalam kelompok BRICS dan menjadi pemain kunci di Amerika Latin.
Akhir masa jabatannya ditandai dengan tingkat popularitas yang sangat tinggi, bahkan ia disebut sebagai “politisi paling populer di dunia” oleh Presiden AS Barack Obama saat itu. Kebijakannya membantu mengangkat puluhan juta orang keluar dari kemiskinan, sebuah warisan yang sulit ditandingi.
Skandal, Penjara, dan Kebangkitan Politik Dramatis
Setelah meninggalkan jabatannya, Lula tetap menjadi tokoh berpengaruh. Namun, perjalanan politiknya menghadapi rintangan besar ketika Operasi Lava Jato (Car Wash), sebuah investigasi korupsi besar-besaran yang mengguncang elite politik Brasil, menyeretnya. Pada tahun 2017, pengadilan memvonisnya atas tuduhan korupsi dan pencucian uang, yang kemudian menyebabkan ia dipenjarakan pada tahun 2018 dan dilarang mencalonkan diri dalam pemilihan presiden tahun itu.
Periode ini menjadi titik terendah dalam karier politik Lula. Namun, pada tahun 2021, Mahkamah Agung Brasil membatalkan vonisnya dengan alasan adanya bias prosedural dan kurangnya yurisdiksi, membuka jalan bagi kembalinya ia ke panggung politik. Pembatalan ini bukan berarti pembebasan dari tuduhan, melainkan mengembalikan hak politiknya untuk mencalonkan diri.
Kembali ke Istana Planalto: Kemenangan Ketiga yang Penuh Arti
Dengan hak politiknya dipulihkan, Lula da Silva melancarkan kampanye pemilihan presiden 2022 yang intens. Ia menghadapi Jair Bolsonaro, seorang politikus sayap kanan yang popularitasnya merosot akibat penanganan pandemi COVID-19 dan isu-isu lingkungan. Pertarungan ini menjadi salah satu pemilihan paling polarisasi dalam sejarah Brasil, merefleksikan perpecahan ideologis yang dalam di negara tersebut.
Kemenangan tipis Lula menunjukkan bahwa meskipun ia kembali didukung oleh mayoritas, Brasil tetap terbagi. Kembalinya Lula ke Istana Planalto bukan hanya merupakan kemenangan pribadi, tetapi juga sebuah simbol bagi banyak orang yang merindukan kembali era stabilitas dan program sosial yang progresif. Namun, tantangan besar menantinya:
- Memulihkan Ekonomi: Brasil menghadapi inflasi tinggi, pengangguran, dan ketidakpastian ekonomi global.
- Persatuan Nasional: Ia harus menyatukan negara yang terpecah belah setelah bertahun-tahun polarisasi politik yang tajam.
- Melindungi Lingkungan: Desakan global untuk melindungi Hutan Hujan Amazon akan menjadi agenda utama pemerintahannya.
- Reformasi Sosial: Melanjutkan dan memperbarui program-program sosial untuk mengatasi kemiskinan yang meningkat pasca-pandemi.
Kisah Lula da Silva adalah cerminan dari dinamika politik Brasil yang kompleks dan penuh gejolak. Dari masa mudanya sebagai pedagang kaki lima, pimpinan serikat buruh yang revolusioner, presiden yang transformatif, tahanan politik, hingga akhirnya kembali memimpin negara ini untuk ketiga kalinya, jejaknya adalah narasi ketahanan dan ambisi yang terus membentuk masa depan Brasil. Untuk mendalami lebih jauh mengenai latar belakang dan profil lengkap tokoh karismatik ini, Anda dapat membaca profil mendalam Luiz Inácio Lula da Silva dari Al Jazeera.
