Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, secara resmi mengungkapkan bahwa penelitian mengenai penggunaan tepung singkong sebagai agen pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah memasuki tahap krusial dan siap untuk diuji coba. Inovasi yang berpotensi revolusioner ini tidak hanya menawarkan solusi yang lebih efektif, tetapi juga ramah lingkungan untuk mengatasi salah satu masalah lingkungan terbesar di Indonesia.
Pengumuman ini menandai langkah maju BRIN dalam memanfaatkan potensi sumber daya alam lokal untuk menjawab tantangan nasional. Arif Satria menekankan, pengembangan teknologi pemadam karhutla berbasis bahan alami seperti tepung singkong merupakan wujud nyata komitmen BRIN dalam menghadirkan solusi berbasis riset dan inovasi yang berkelanjutan. Proses pengembangan ini melibatkan kolaborasi intensif dengan berbagai pihak, mulai dari akademisi, lembaga penelitian lain, hingga potensi mitra industri dan pemerintah daerah, memastikan pendekatan yang komprehensif dan teruji sebelum diterapkan secara luas.
Ancaman Karhutla dan Kebutuhan Solusi Inovatif
Kebakaran hutan dan lahan telah lama menjadi bencana tahunan di Indonesia, terutama selama musim kemarau panjang. Dampaknya sangat masif, menyebabkan kabut asap pekat yang mengganggu kesehatan jutaan jiwa, melumpuhkan aktivitas ekonomi, merusak ekosistem vital, serta memicu emisi gas rumah kaca yang memperparah perubahan iklim global. Data dari tahun-tahun sebelumnya, seperti musim karhutla parah pada 2015, 2019, dan beberapa insiden pada 2023, secara konsisten menunjukkan urgensi penemuan metode pemadaman yang lebih efisien dan lestari.
Metode pemadaman konvensional, seperti water bombing dengan helikopter atau penggunaan bahan kimia retardant, seringkali menghadapi berbagai kendala. Keterbatasan akses air, biaya operasional yang tinggi, dan potensi dampak negatif bahan kimia terhadap lingkungan menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi. Oleh karena itu, riset BRIN ini menawarkan harapan baru, membangun pondasi dari berbagai upaya penanganan karhutla yang telah dilaporkan sebelumnya. BRIN secara aktif mencari alternatif yang tidak hanya ampuh memadamkan api, tetapi juga aman bagi lingkungan serta berkelanjutan secara ekonomis bagi masyarakat.
Potensi Revolusioner Tepung Singkong sebagai Agen Pemadam
Inovasi tepung singkong sebagai agen pemadam kebakaran didasarkan pada karakteristik fisikokimia bahan tersebut. Tepung singkong, ketika dicampur dengan air, dapat membentuk gel atau pasta kental yang memiliki beberapa keunggulan kunci:
- Biodegradable dan Ramah Lingkungan: Tidak meninggalkan residu berbahaya di tanah atau air, aman bagi flora, fauna, dan kesehatan manusia. Ini menjadi keunggulan signifikan dibandingkan retardant kimia sintetis.
- Ketersediaan Lokal dan Ekonomis: Singkong merupakan komoditas pertanian yang melimpah di berbagai wilayah Indonesia. Pemanfaatan tepung singkong mendukung ekonomi petani lokal dan berpotensi menekan biaya operasional pemadaman dibandingkan impor bahan kimia.
- Efektivitas Pemadaman: Campuran gel tepung singkong berpotensi bekerja dengan beberapa mekanisme. Gel tersebut dapat melapisi biomassa yang terbakar, menghambat kontak api dengan oksigen (suffocation), serta menahan dan melepaskan air secara perlahan, sehingga efektif mendinginkan area kebakaran dan mencegah api menyala kembali dalam waktu singkat.
BRIN telah melakukan serangkaian uji laboratorium dan simulasi skala kecil untuk memvalidasi efektivitas dan keamanan formulasi ini. Hasil awal menunjukkan potensi yang sangat menjanjikan, mendorong keputusan untuk melanjutkan ke tahap uji coba lapangan yang lebih besar dan komprehensif.
Kolaborasi Multisektoral dan Tahap Uji Coba Lapangan
Tahap uji coba yang akan segera dilaksanakan merupakan bagian integral dari proses validasi ilmiah dan implementasi. Arif Satria menjelaskan, kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk universitas untuk kajian akademis lebih lanjut, pemerintah daerah yang memiliki wilayah rawan karhutla untuk lokasi uji coba, dan potensi keterlibatan sektor swasta dalam produksi skala besar, sangat penting. Sinergi ini akan memastikan bahwa inovasi tidak hanya berhenti di laboratorium tetapi dapat diimplementasikan secara praktis dan efektif di lapangan.
Uji coba ini akan berfokus pada evaluasi kinerja tepung singkong dalam berbagai skenario kebakaran, mengukur efektivitas pemadaman, durasi residu, dampak lingkungan jangka panjang, serta kemudahan aplikasi oleh tim pemadam di lapangan. Temuan dari uji coba ini akan menjadi dasar untuk penyempurnaan lebih lanjut dan pengembangan standar operasional prosedur (SOP) yang optimal. BRIN berharap, inovasi ini dapat menjadi bagian integral dari strategi mitigasi dan penanganan karhutla nasional di masa depan, memberikan dampak positif yang signifikan bagi lingkungan dan masyarakat Indonesia. Informasi lebih lanjut mengenai berbagai riset dan inovasi yang dikembangkan BRIN dapat diakses melalui situs resmi BRIN.
