Aksi Memanas di Depan Mapolda DIY
Aksi demonstrasi di depan Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) DIY pada Selasa malam, 24 Februari 2026, sempat memanas dan berujung ricuh. Ratusan massa yang terdiri dari elemen mahasiswa dan masyarakat meluapkan kemarahan atas tindakan oknum Brigade Mobil (Brimob) yang diduga menewaskan seorang anak di Maluku. Konsentrasi massa yang mulai berdatangan sejak sore hari semakin membesar seiring gelapnya malam, membawa spanduk dan poster berisi tuntutan keadilan.
Ketegangan memuncak sekitar pukul 21.00 WIB ketika massa mulai bergerak mendekati pagar pembatas Mapolda DIY. Seruan-seruan keras menuntut pertanggungjawaban aparat bergema, memecah kesunyian malam di jalan raya. Dalam luapan emosi, beberapa individu dari kerumunan massa nekat mendorong dan kemudian melemparkan pagar besi pembatas ke arah barikade kepolisian. Kejadian ini mengakibatkan seorang anggota polisi yang berjaga di balik pagar terjatuh dan mengalami luka ringan, menambah daftar panjang insiden kekerasan dalam demonstrasi.
Kepolisian berupaya menenangkan situasi melalui negosiasi, namun massa tetap tak bergeming, berkeras menyampaikan aspirasi mereka secara langsung. Petugas keamanan kemudian membentuk barisan pertahanan yang lebih solid untuk mencegah insiden yang lebih parah, sembari meminta massa untuk menahan diri dan tidak melakukan tindakan anarkis. Peristiwa ini menunjukkan betapa dalamnya kekecewaan publik terhadap kasus dugaan kekerasan oleh aparat penegak hukum yang terus berulang.
Tuntutan Keadilan untuk Korban di Maluku
Inti dari aksi protes ini adalah desakan kuat agar kasus tewasnya seorang siswa di Maluku diusut tuntas dan para pelaku mendapatkan sanksi hukum yang setimpal. Massa aksi membawa narasi bahwa korban meninggal dunia akibat tindakan represif yang dilakukan oleh oknum Brimob, sebuah tuduhan serius yang memerlukan penyelidikan transparan dan imparsial. Mereka menuntut:
- Penyelidikan Menyeluruh: Pihak berwenang harus segera membentuk tim investigasi independen untuk mengungkap kronologi kejadian dan menemukan pihak yang bertanggung jawab atas kematian siswa tersebut.
- Penegakan Hukum Tegas: Oknum Brimob yang terbukti terlibat harus diproses sesuai hukum yang berlaku, tanpa pandang bulu atau upaya melindungi korps.
- Transparansi Informasi: Keluarga korban dan publik berhak mendapatkan informasi yang jelas dan akuntabel mengenai perkembangan kasus ini.
- Jaminan Akuntabilitas: Menuntut adanya reformasi internal di tubuh kepolisian agar kasus serupa tidak terulang di masa depan dan menjamin akuntabilitas setiap anggota.
Para orator secara bergantian menyuarakan keprihatinan mereka terhadap impunitas yang kerap menaungi kasus-kasus dugaan kekerasan oleh aparat. Mereka menegaskan bahwa demonstrasi ini bukan hanya tentang satu kasus, melainkan perjuangan yang lebih luas untuk keadilan dan hak asasi manusia bagi seluruh warga negara, terutama mereka yang rentan.
Respons Aparat dan Sorotan Publik
Menyikapi aksi yang memanas, pihak kepolisian di Mapolda DIY menyatakan akan menindaklanjuti aspirasi massa dan berjanji meneruskan tuntutan tersebut kepada pihak-pihak terkait, termasuk Mabes Polri. Namun, pernyataan ini belum sepenuhnya meredakan kemarahan massa yang menginginkan tindakan konkret dan cepat. Kapolda DIY melalui perwakilannya sempat berdialog singkat dengan koordinator lapangan, menjanjikan proses hukum yang adil akan berjalan di Maluku.
Insiden tewasnya siswa di Maluku dan gelombang protes yang meluas hingga ke Yogyakarta ini kembali menyoroti isu sensitif mengenai dugaan kekerasan yang melibatkan aparat keamanan. Kasus ini menambah panjang daftar rentetan peristiwa yang sebelumnya juga memicu seruan serupa dari berbagai organisasi hak asasi manusia dan elemen masyarakat sipil. Publik menuntut reformasi serius dalam institusi kepolisian, mulai dari rekrutmen, pelatihan, hingga mekanisme pengawasan dan penindakan terhadap pelanggaran etik dan hukum yang dilakukan anggotanya. Tanpa adanya perbaikan sistemik, kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum dikhawatirkan akan terus terkikis, memicu lebih banyak ketegangan sosial di masa mendatang.
