Rano Karno Ungkap Potensi Jakarta di Peringkat Kota Terbaik Global, Sentil Washington DC
Pada masanya menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno pernah menyampaikan respons positif terhadap potensi pencapaian Jakarta yang dikabarkan berhasil masuk ke peringkat ke-53 dunia dalam daftar ‘World’s Best Cities’ yang kala itu disebut-sebut akan dirilis oleh perusahaan konsultan global, Resonance Consultancy, yang berkantor pusat di Brussel, Belgia. Pernyataan tersebut, yang mencuat ke publik, bahkan secara berani membandingkan posisi Jakarta dengan ibu kota Amerika Serikat, “Washington DC Kalah,” ujarnya kala itu, menggambarkan optimisme terhadap daya saing ibu kota Indonesia.
Rano Karno mengaku kabar gembira terkait potensi peringkat global Jakarta ini ia peroleh dari sumber terpercaya di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada periode tersebut. Meskipun laporan spesifik untuk tahun-tahun jauh ke depan seperti ‘2026’ seringkali bersifat indikatif atau hipotetis dalam industri konsultansi kota, antusiasme Rano Karno mencerminkan aspirasi besar Jakarta untuk diakui di panggung dunia.
Pernyataan ini menggarisbawahi ambisi Jakarta untuk tidak hanya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi regional, tetapi juga kota global yang diakui secara internasional. Laporan semacam ‘World’s Best Cities’ yang disusun oleh Resonance Consultancy memang dikenal sebagai salah satu tolok ukur komprehensif yang menilai kota-kota berdasarkan beragam faktor, mulai dari kualitas hidup, infrastruktur, budaya, hingga daya tarik investasi. Meski rincian peringkat ‘2026’ yang disebutkan masih berada di masa depan atau merupakan proyeksi, semangat di balik komentar Rano Karno relevan untuk melihat bagaimana Jakarta terus berjuang meningkatkan posisinya di mata dunia.
Mengenal Metodologi Peringkat Kota Global
Laporan ‘World’s Best Cities’ dari Resonance Consultancy adalah salah satu analisis kota paling dihormati di dunia. Perusahaan ini tidak hanya melihat angka-angka statistik kasar, tetapi juga mempertimbangkan pengalaman wisatawan, penduduk, dan investor. Metodologi mereka sangat komprehensif, mencakup enam pilar utama yang disebut ‘Place, Product, Programming, People, Prosperity, dan Promotion’. Setiap pilar memiliki sub-indikator yang jauh lebih detail, seperti:
- Place: Keamanan, iklim, lingkungan, kualitas udara.
- Product: Infrastruktur (bandara, transportasi), museum, universitas, pusat konvensi.
- Programming: Budaya, kuliner, belanja, kehidupan malam.
- People: Keragaman, tingkat pendidikan penduduk.
- Prosperity: Markas perusahaan Global 500, PDB per kapita, tingkat pengangguran.
- Promotion: Cerita dan rekomendasi online, media sosial, referensi di media.
Jakarta, sebagai kota metropolitan yang sangat dinamis, memiliki kekuatan di beberapa pilar ini, terutama dalam hal ‘People’ dengan populasi yang besar dan beragam, serta ‘Prosperity’ sebagai pusat ekonomi Indonesia. Namun, kota ini juga menghadapi tantangan signifikan dalam aspek ‘Place’ terkait kemacetan, polusi, dan isu lingkungan lainnya yang kerap menjadi sorotan dalam evaluasi global. Evaluasi menyeluruh ini menjadi penting bagi pemerintah daerah untuk mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan agar dapat bersaing lebih baik di kancah internasional.
Komentar Rano Karno dan Aspirasi Jakarta
Pernyataan Rano Karno yang menyebutkan potensi Jakarta melampaui Washington DC, meskipun mungkin hiperbolis, menunjukkan keyakinan pada kapasitas Jakarta. Washington DC, sebagai ibu kota negara adidaya, memiliki keunggulan dalam stabilitas politik, infrastruktur kelas dunia, dan institusi pendidikan serta budaya yang mendunia. Perbandingan ini, di satu sisi, dapat memicu semangat kompetisi positif bagi Jakarta. Namun, di sisi lain, juga menyoroti jarak yang perlu ditempuh Jakarta untuk mencapai level tersebut dalam beberapa aspek kritis.
Pada dasarnya, peringkat kota global bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari daya tarik dan kualitas kota dalam berbagai dimensi. Bagi Jakarta, pengakuan semacam ini bisa menjadi daya tarik signifikan bagi investasi asing, pariwisata, dan juga bakat-bakat global. Selama periode kepemimpinan Rano Karno sebagai Wakil Gubernur (bersama Gubernur pada saat itu, Joko Widodo dan kemudian Basuki Tjahaja Purnama), berbagai program pembangunan dan perbaikan kualitas kota memang digalakkan, mulai dari transportasi publik hingga penataan ruang kota. Ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Jakarta untuk memperkuat posisinya sebagai kota global.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai metodologi dan laporan terkini dari Resonance Consultancy, Anda dapat mengunjungi situs resmi mereka.
Tantangan dan Potensi Masa Depan Jakarta
Menatap ke depan, upaya Jakarta untuk terus menanjak dalam peringkat kota global menghadapi sejumlah tantangan. Isu seperti pemerataan pembangunan, manajemen lingkungan yang berkelanjutan, dan peningkatan kualitas hidup bagi seluruh lapisan masyarakat tetap menjadi pekerjaan rumah. Proyek-proyek infrastruktur masif seperti MRT, LRT, dan revitalisasi kawasan publik adalah langkah-langkah konkret yang dilakukan untuk mengatasi tantangan tersebut dan sekaligus meningkatkan ‘Product’ dan ‘Place’ kota.
Komentar Rano Karno di masa lalu menjadi pengingat bahwa ambisi Jakarta untuk menjadi kota kelas dunia bukanlah hal baru. Ini adalah bagian dari perjalanan panjang dan berkelanjutan yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sektor swasta, hingga masyarakat. Keberhasilan Jakarta dalam meraih peringkat lebih tinggi di masa depan akan sangat bergantung pada konsistensi dalam inovasi, adaptasi terhadap perubahan global, dan komitmen terhadap pembangunan inklusif dan berkelanjutan. Narasi tentang daya saing kota ini akan terus relevan seiring dengan aspirasi Jakarta menjadi pusat ekonomi dan budaya di Asia Tenggara, dan bahkan dunia, seperti yang pernah dikemukakan oleh Rano Karno.
Artikel ini terhubung dengan bahasan sebelumnya mengenai upaya Jakarta dalam meningkatkan indeks pembangunan manusia dan daya saing ekonomi, yang juga menjadi faktor krusial dalam penilaian kota-kota global. Peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta kemudahan berbisnis, adalah prasyarat utama untuk mencapai posisi yang lebih tinggi di daftar kota terbaik dunia. Jakarta terus berbenah, dengan harapan suatu saat bisa benar-benar mendominasi peringkat global dan membuktikan pernyataan optimistis Rano Karno.
