MANCHESTER – Enzo Maresca, mantan asisten Pep Guardiola di Manchester City, menyuarakan keyakinannya bahwa The Citizens memiliki fondasi kokoh yang akan mencegah mereka mengalami kemunduran serupa Manchester United setelah ditinggal Sir Alex Ferguson. Pernyataan Maresca ini menyoroti perbedaan fundamental dalam struktur dan visi jangka panjang kedua klub raksasa kota Manchester tersebut.
Manchester United memang mengalami periode ketidakpastian dan inkonsistensi sejak Sir Alex Ferguson pensiun pada 2013. Sejumlah manajer, mulai dari David Moyes, Louis van Gaal, Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, hingga Erik ten Hag, silih berganti memimpin tim, namun belum ada yang mampu mengembalikan kejayaan klub secara berkelanjutan di level domestik maupun Eropa. Ketiadaan visi strategis yang konsisten dari level manajemen puncak, dikombinasikan dengan keputusan rekrutmen pemain dan pelatih yang sering kali reaktif, menjadi sorotan utama penyebab ‘limbungan’ Setan Merah.
Di sisi lain, Manchester City di bawah asuhan Pep Guardiola telah menjelma menjadi salah satu kekuatan dominan di sepak bola dunia, puncaknya meraih treble winner pada musim 2022/2023. Kesuksesan ini tidak hanya bertumpu pada kejeniusan taktik Guardiola, melainkan juga pada struktur klub yang terintegrasi dan berpandangan jauh ke depan. Inilah yang menjadi dasar optimisme Maresca.
Mengapa Manchester City Diyakini Lebih Tangguh?
Maresca, yang kini menukangi Leicester City, memiliki pengalaman langsung bekerja di bawah Guardiola dan mengenal seluk-beluk operasional Manchester City. Keyakinannya didasari beberapa faktor kunci:
- Struktur Klub Terpadu: Manchester City adalah bagian dari City Football Group (CFG), sebuah entitas global yang menerapkan filosofi dan model operasional yang sama di berbagai klub. Ini menciptakan kesinambungan yang kuat dari tingkat manajemen puncak, seperti CEO Ferran Soriano dan Direktur Sepak Bola Txiki Begiristain, hingga ke tim teknis. Mereka telah membangun ekosistem sepak bola yang solid, tidak bergantung pada satu individu.
- Filosofi Sepak Bola Jelas: Sejak kedatangan Begiristain dan Soriano, City telah menerapkan filosofi sepak bola menyerang, berbasis penguasaan bola, yang konsisten. Guardiola memperkuat dan menyempurnakan filosofi ini. Struktur ini memastikan bahwa siapa pun pelatih pengganti Guardiola, ia akan dipilih berdasarkan kesesuaian dengan DNA klub yang sudah ada, bukan sekadar nama besar.
- Rekrutmen & Pengembangan Pemain Berkelanjutan: City memiliki jaringan pencari bakat dan sistem pengembangan pemain yang kelas dunia. Mereka mampu mengidentifikasi dan merekrut talenta muda, serta menemukan pengganti untuk pemain kunci yang pergi, tanpa mengganggu keseimbangan skuad. Ini menunjukkan kemampuan perencanaan jangka panjang yang matang.
- Perencanaan Suksesi yang Matang: Berbeda dengan United yang tampak reaktif pasca-Ferguson, City diyakini telah memiliki rencana suksesi yang matang untuk era pasca-Guardiola. Nama-nama seperti Vincent Kompany atau bahkan Maresca sendiri sering disebut-sebut sebagai kandidat potensial yang memahami budaya dan filosofi klub.
Pelajaran dari Era Pasca-Ferguson Manchester United
Perjalanan Manchester United setelah Ferguson menjadi studi kasus tentang pentingnya struktur klub yang kuat di atas individu. Setelah kepergian manajer legendaris yang telah membangun kerajaan selama 26 tahun, United berjuang keras mencari identitas. Ketiadaan direktur olahraga dengan otoritas penuh, perubahan direksi yang sering, dan keputusan transfer yang tidak selalu selaras dengan visi pelatih jangka panjang, menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus. Klub ini sering kali terlihat berjalan tanpa arah yang jelas, hanya bereaksi terhadap hasil buruk dan tekanan media.
Kontrasnya, model City memungkinkan mereka untuk melihat melampaui masa jabatan satu pelatih. Mereka membangun institusi yang dapat beradaptasi dan berkembang, bahkan ketika figur sentral seperti Guardiola suatu saat memutuskan untuk pergi. Ini bukan berarti kepergian Guardiola tidak akan berdampak, namun dampak tersebut diharapkan dapat diminimalisir oleh sistem yang sudah terbangun kuat.
Tantangan yang Tetap Ada bagi City
Meskipun optimisme Maresca beralasan, tantangan menggantikan figur sebesar Pep Guardiola tetaplah monumental. Guardiola bukan hanya seorang pelatih, ia adalah arsitek filosofi permainan modern City, seorang motivator ulung, dan magnet bagi talenta kelas dunia. Mengisi kekosongan taktis dan kepemimpinan yang ditinggalkan Guardiola akan menjadi ujian nyata bagi struktur klub yang diklaim Maresca sangat kokoh. Pengaruh emosional dan psikologis dari kepergian seorang ikon juga tidak bisa diabaikan.
Pada akhirnya, waktu akan membuktikan apakah keyakinan Enzo Maresca tentang ketahanan Manchester City pasca-Guardiola akan terwujud. Namun, perbedaan pendekatan antara dua klub Manchester ini dalam menghadapi transisi manajerial memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya visi jangka panjang, struktur organisasi yang kuat, dan filosofi klub yang konsisten dalam sepak bola modern.
