ACEH – Momen Idul Fitri 1445 Hijriah di Aceh dirayakan dengan nuansa keprihatinan dan refleksi mendalam, terutama bagi keluarga-keluarga penyintas banjir dan tanah longsor di wilayah Aceh Tengah dan Pidie Jaya. Peristiwa bencana yang menyisakan trauma dan kehilangan ini mendorong mereka untuk memaknai hari kemenangan dengan cara yang berbeda: ada yang kini semakin menyadari urgensi menjaga alam, sementara yang lain tak henti-hentinya mengingatkan tanggung jawab besar negara dalam penanganan bencana.
Kisah ini menyoroti adaptasi dan perjuangan masyarakat di garis depan dampak perubahan iklim dan degradasi lingkungan. Di balik gemuruh takbir dan hidangan khas Idul Fitri, tersimpan harapan dan tuntutan akan masa depan yang lebih aman dan berkelanjutan.
Makna Idul Fitri di Tengah Puing Kehilangan
Bagi sebagian penyintas, Idul Fitri tahun ini menjadi pengingat pahit akan kekuatan alam yang maha dahsyat. Ibu Fatimah (nama samaran), seorang penyintas dari Aceh Tengah yang rumahnya diterjang longsor, mengungkapkan bahwa perayaan kali ini terasa lebih hening. "Tak ada lagi canda tawa seceria dulu. Kami masih berduka, tapi kami harus bangkit," ujarnya dengan nada lirih. Namun, di tengah kesedihan itu, muncul kesadaran baru.
- Pentingnya menjaga kelestarian hutan menjadi pelajaran berharga yang dipetik langsung dari pengalaman pahit.
- Seruan "Tolong jaga alam, jangan asal babat!" kini menjadi mantra yang tak henti disuarakan, terutama kepada generasi muda dan pihak-pihak yang memiliki wewenang.
- Mereka percaya bahwa keseimbangan ekosistem adalah kunci untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang.
Peristiwa banjir dan longsor yang melanda Aceh, seperti yang terjadi sebelumnya pada akhir tahun lalu di beberapa wilayah lain seperti Aceh Tamiang dan Aceh Utara, seringkali diindikasikan kuat memiliki keterkaitan dengan kerusakan lingkungan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sendiri telah berulang kali mengingatkan risiko bencana hidrometeorologi akibat deforestasi dan perubahan tata guna lahan.
Seruan Jaga Alam: Antara Harapan dan Realitas
Pesan untuk menjaga alam bukan sekadar kalimat klise yang diucapkan para penyintas. Ini adalah refleksi atas pengalaman traumatis di mana mereka menyaksikan langsung bagaimana pohon-pohon yang ditebang sembarangan dan lahan yang dialihfungsikan secara serampangan berkontribusi pada bencana yang menimpa. Air bah yang membawa lumpur dan material longsor menjadi bukti nyata dari apa yang terjadi ketika manusia mengabaikan peringatan alam.
Aceh, dengan tutupan hutan yang vital, sayangnya masih menghadapi tantangan serius dalam hal deforestasi, baik ilegal maupun melalui izin konsesi yang kurang terkontrol. Para penyintas berharap agar pemerintah dan seluruh elemen masyarakat lebih serius dalam melakukan penegakan hukum terhadap perusak lingkungan dan mengimplementasikan program reboisasi yang berkelanjutan. Harapan mereka adalah agar anak cucu tidak lagi harus merayakan Idul Fitri dalam bayang-bayang ketakutan akan bencana.
Menuntut Tanggung Jawab Negara dalam Mitigasi Bencana
Di sisi lain, keluarga penyintas lain di Pidie Jaya memilih untuk menyuarakan tuntutan yang lebih terarah kepada negara. Bapak Rahman (nama samaran), yang kehilangan sebagian besar harta bendanya, menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus dibarengi dengan tindakan nyata dari pemerintah. "Kami tidak hanya butuh janji, tapi bukti. Mana tanggung jawab negara dalam melindungi rakyatnya dari bencana?" ujarnya dengan tegas.
Tanggung jawab negara yang dimaksud mencakup beberapa aspek krusial:
- Mitigasi dan Pencegahan: Implementasi kebijakan tata ruang yang ketat, penegakan hukum lingkungan yang adil, serta pembangunan infrastruktur penahan bencana.
- Respons Cepat: Kesiapsiagaan dan respons darurat yang efektif saat bencana terjadi, termasuk evakuasi, penyediaan logistik, dan layanan kesehatan.
- Rehabilitasi dan Rekonstruksi: Bantuan pascabencana yang komprehensif untuk memulihkan kehidupan masyarakat, termasuk perbaikan rumah, infrastruktur, dan dukungan psikososial.
- Edukasi dan Pemberdayaan: Peningkatan kesadaran masyarakat tentang risiko bencana dan pelatihan keterampilan untuk menghadapi situasi darurat.
Keluhan ini bukan tanpa dasar. Seringkali, pasca-bencana, masyarakat merasa ditinggalkan atau bantuan yang diberikan tidak merata dan tidak sesuai kebutuhan. Pengalaman serupa dengan bencana-bencana sebelumnya, seperti gempa dan tsunami 2004, atau gempa Pidie Jaya 2016, menunjukkan pentingnya koordinasi yang kuat dan perencanaan matang dari pihak berwenang. Ini bukan hanya tentang memberi bantuan sesaat, melainkan membangun ketahanan jangka panjang.
Idul Fitri: Momentum Refleksi dan Perjuangan
Idul Fitri di Aceh Tengah dan Pidie Jaya tahun ini menjadi lebih dari sekadar perayaan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Ini adalah momentum refleksi kolektif tentang hubungan manusia dengan alam, serta evaluasi terhadap peran dan tanggung jawab pemerintah. Suara-suara para penyintas, meskipun penuh keprihatinan, membawa pesan kuat yang harus didengar: bahaya kerusakan lingkungan sudah di depan mata, dan negara harus hadir secara penuh dalam setiap tahapan penanggulangan bencana. Hanya dengan sinergi antara kesadaran masyarakat dan komitmen pemerintah, masa depan yang lebih aman dapat terwujud di Serambi Mekkah.
