Judul Artikel Kamu

Kowani Gelar Fun Walk 10.000 Langkah, Suarakan Tempe Menuju Warisan Budaya UNESCO

JAKARTA – Kongres Wanita Indonesia (Kowani) sukses menyelenggarakan kegiatan fun walk 10.000 langkah sehat. Acara yang berlangsung meriah ini bertujuan utama untuk menggaungkan dan memperkuat gerakan ‘Tempe Indonesia Goes to UNESCO’, sebuah inisiatif nasional yang mendorong pengakuan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

Ketua Umum Kowani, Nannie Hadi Tjahjanto, menyatakan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ajang olahraga. Ia menekankan pentingnya tempe dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. “Tempe bukan hanya pangan, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi sumber penghidupan keluarga yang berkelanjutan,” tutur Nannie di Jakarta, Minggu (9/8/2026).

Gerakan fun walk yang menempuh rute dari halaman Kantor Kowani ini menjadi simbol komitmen kuat para wanita Indonesia dalam melestarikan sekaligus mempromosikan tempe di kancah internasional. Kowani secara aktif mengajak masyarakat luas untuk memahami nilai historis, budaya, dan ekonomis yang terkandung dalam pangan fermentasi asli Indonesia ini.

Menguatkan Citra Tempe: Lebih dari Sekadar Pangan Lokal

Pengakuan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO akan membawa dampak signifikan bagi Indonesia. Status ini tidak hanya menempatkan tempe pada posisi terhormat di panggung dunia, tetapi juga membuka peluang besar untuk pengembangan industri tempe di berbagai sektor. Nannie Hadi Tjahjanto menjelaskan bahwa upaya Kowani ini berfokus pada dua dimensi utama:

  • Peningkatan Ekonomi Keluarga: Tempe, dengan proses pembuatannya yang relatif sederhana dan bahan baku yang mudah ditemukan, menawarkan peluang usaha mikro dan kecil yang dapat diberdayakan oleh keluarga. Kowani aktif mendorong program pelatihan dan pendampingan untuk memaksimalkan potensi ini.
  • Penguatan Ketahanan Pangan dan Gizi: Sebagai sumber protein nabati yang kaya dan terjangkau, tempe berperan krusial dalam mengatasi masalah gizi masyarakat. Kandungan probiotiknya juga berkontribusi pada kesehatan pencernaan, menjadikannya pilihan pangan sehat yang sangat relevan di tengah gaya hidup modern.

Kegiatan fun walk ini sendiri, sebagaimana diberitakan sebelumnya dalam serangkaian upaya serupa, menjadi platform yang efektif untuk menyosialisasikan pentingnya tempe kepada khalayak ramai. Ribuan peserta yang terlibat dalam 10.000 langkah sehat bukan hanya berolahraga, tetapi juga menjadi duta-duta kecil yang membawa pesan penting tentang tempe.

Perjalanan Tempe Menuju Warisan Budaya Dunia

Perjuangan untuk menjadikan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO telah berlangsung lama dan melibatkan berbagai elemen masyarakat serta pemerintah. Proses nominasi memerlukan dokumentasi mendalam mengenai sejarah, filosofi, cara pembuatan tradisional, serta peran tempe dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Indonesia. Kowani, melalui gerakan ini, turut serta memperkuat narasi dan dukungan publik.

Pengakuan dari UNESCO akan memberikan perlindungan hukum dan budaya bagi tradisi pembuatan tempe, mencegah klaim sepihak dari negara lain, dan memastikan bahwa pengetahuan serta praktik terkait tempe terus diwariskan dari generasi ke generasi. Selain itu, status ini diharapkan dapat meningkatkan ekspor produk tempe Indonesia ke pasar global, sekaligus mempromosikan Indonesia sebagai pusat keunggulan pangan fermentasi sehat.

Nannie berharap agar seluruh elemen bangsa terus bersatu padu dalam mendukung misi mulia ini. “Dukungan dari setiap lapisan masyarakat sangat kita butuhkan agar tempe dapat segera menyusul kesuksesan warisan budaya Indonesia lainnya yang telah diakui UNESCO,” tegasnya. Untuk informasi lebih lanjut mengenai kriteria dan daftar Warisan Budaya Takbenda dunia, publik dapat mengakses situs resmi UNESCO.

Dengan semangat kebersamaan dan langkah nyata seperti fun walk ini, Kowani optimis bahwa tempe akan segera meraih tempatnya sebagai warisan dunia, mengukuhkan identitas Indonesia di mata global.