Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya secara tegas menyatakan dukungan penuh pemerintah terhadap upaya Padang meraih predikat City of Gastronomy UNESCO. Pernyataan ini sekaligus menjadi pemicu penguatan ekosistem ekonomi kreatif dan pembenahan sektor gastronomi lokal secara menyeluruh, guna memenuhi standar global yang ditetapkan oleh lembaga kebudayaan PBB tersebut. Langkah strategis ini diharapkan tidak hanya mengangkat citra kuliner Padang ke kancah internasional, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Mendorong Potensi Kuliner Padang ke Kancah Global
Padang, dengan kekayaan warisan kuliner yang tak terbantahkan, telah lama dikenal sebagai salah satu destinasi gastronomi unggulan di Indonesia. Dari Rendang yang mendunia hingga Sate Padang dan berbagai hidangan khas Minang lainnya, kota ini memiliki fondasi kuat untuk bersaing di level internasional. Predikat City of Gastronomy UNESCO bukan sekadar gelar, melainkan sebuah pengakuan terhadap keunikan, keberlanjutan, dan peran kuliner sebagai pendorong pembangunan kota. Pengakuan ini akan membuka pintu bagi peningkatan kunjungan wisatawan, investasi, dan kolaborasi budaya, sebagaimana terjadi di kota-kota lain yang telah menerima penghargaan serupa.
Program City of Gastronomy merupakan bagian dari UNESCO Creative Cities Network (UCCN) yang bertujuan mempromosikan kerja sama antar kota. Jaringan ini mengakui kreativitas sebagai faktor strategis dalam pembangunan berkelanjutan. Dengan menjadi bagian dari Jaringan Kota Kreatif UNESCO, Padang akan terhubung dengan kota-kota kreatif lainnya di seluruh dunia, memungkinkan pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan promosi bersama. Hal ini akan memperkuat posisi Padang sebagai pusat kuliner terkemuka, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga global.
Peran Strategis Kementerian Ekonomi Kreatif
Dukungan Menteri Teuku Riefky Harsya menggarisbawahi komitmen pemerintah pusat dalam mendukung inisiatif daerah. Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) akan mengambil peran aktif dalam penguatan ekosistem ekonomi kreatif Padang. Ini mencakup serangkaian program terstruktur mulai dari pelatihan bagi pelaku usaha kuliner, pengembangan produk inovatif, hingga strategi pemasaran dan branding yang lebih efektif. Fokusnya adalah meningkatkan kapasitas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner lokal agar mampu bersaing dan memenuhi standar internasional, baik dari segi kualitas bahan baku, proses produksi, maupun penyajian.
Dalam konteks “pembenahan sektor gastronomi,” Kemenparekraf akan bekerja sama dengan pemerintah daerah dan komunitas lokal untuk memastikan aspek kebersihan, sanitasi, dan standar pelayanan di seluruh rantai pasok kuliner. Ini juga termasuk upaya pelestarian resep-resep tradisional yang otentik serta mendorong inovasi yang tetap menghormati warisan budaya. Sebuah artikel lama pernah mengulas bagaimana *potensi kuliner Minang telah lama menjadi daya tarik utama yang belum tergarap maksimal*, dan kini momentumnya tepat untuk membawanya ke level yang lebih tinggi dengan dukungan terpadu dari pemerintah pusat.
Tantangan dan Peluang Menuju Pengakuan UNESCO
Meskipun memiliki potensi besar, perjalanan menuju predikat City of Gastronomy UNESCO tentu tidak tanpa tantangan. Konsistensi dalam menjaga kualitas, keberlanjutan pasokan bahan baku lokal, serta partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat—termasuk petani, nelayan, koki, pengusaha, hingga akademisi—menjadi kunci utama. Selain itu, pemerintah memerlukan investasi infrastruktur yang memadai untuk mendukung pariwisata gastronomi, seperti peningkatan aksesibilitas, fasilitas penginapan, dan pusat-pusat kuliner yang representatif.
Namun, peluang yang terbuka jauh lebih besar. Pengakuan UNESCO akan meningkatkan visibilitas Padang di mata dunia, menarik lebih banyak wisatawan yang tertarik pada pengalaman kuliner otentik. Hal ini secara langsung akan menciptakan lapangan kerja baru, mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif lainnya seperti kerajinan tangan dan seni pertunjukan. Dengan demikian, inisiatif ini bukan hanya tentang kuliner semata, melainkan tentang pembangunan holistik yang menempatkan budaya dan kreativitas sebagai mesin penggerak kemajuan. Pemerintah berharap sinergi antara pusat dan daerah dapat menghasilkan dampak positif yang berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Padang dan Sumatera Barat.
