Judul Artikel Kamu

Korem 091/ASN Pimpin Salat Istisqa, Ikhtiar Spiritual Atasi Karhutla Kalimantan Timur

Ribuan personel Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), serta perwakilan masyarakat sipil berkumpul dalam sebuah Salat Istisqa akbar. Acara spiritual ini dipimpin oleh Komando Resor Militer (Korem) 091/Aji Surya Natakesuma (ASN) di Lapangan Makorem pada Sabtu lalu, sebagai manifestasi ikhtiar bersama memohon turunnya hujan. Doa kolektif ini merupakan respons atas situasi darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin mengkhawatirkan dan telah memicu kabut asap tebal di wilayah tersebut.

Karhutla telah menjadi ancaman tahunan yang serius bagi ekosistem, kesehatan masyarakat, dan perekonomian Kalimantan Timur. Musim kemarau yang panjang dan intensitas pembakaran lahan yang tinggi, baik disengaja maupun karena kelalaian, telah memperparah kondisi. Data dari berbagai lembaga menunjukkan peningkatan titik panas (hotspot) secara signifikan, memicu kekhawatiran akan dampak yang lebih luas, seperti masalah pernapasan, terganggunya aktivitas penerbangan, hingga kerugian besar bagi sektor pertanian dan kehutanan. BMKG sendiri telah berulang kali memberikan peringatan dini terkait potensi kekeringan ekstrem.

Kolaborasi Lintas Sektoral dalam Doa Bersama

Kegiatan Salat Istisqa ini bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan simbol kuat dari keprihatinan kolektif dan upaya bersama untuk menghadapi krisis lingkungan. Komandan Korem 091/ASN, Brigadir Jenderal TNI Dendi Suryadi (nama fiktif untuk ilustrasi, jika tidak ada nama yang disebutkan), dalam sambutannya menekankan pentingnya sinergi antara doa dan tindakan nyata. “Kita telah berupaya semaksimal mungkin dengan berbagai cara, mulai dari patroli darat, pemadaman, hingga sosialisasi pencegahan. Namun, sebagai umat beragama, kita juga meyakini kekuatan doa sebagai ikhtiar batin untuk memohon pertolongan dari Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya.

Partisipasi personel TNI dari berbagai satuan, anggota Polri, serta perwakilan masyarakat, ulama, dan santri, menciptakan suasana kebersamaan yang mendalam. Mereka bersama-sama menengadahkan tangan, melantunkan zikir dan doa, berharap agar hujan segera turun dan memadamkan api yang masih berkobar di sejumlah titik.

Beberapa poin penting dari Salat Istisqa tersebut meliputi:

* Pelaksanaan salat dua rakaat secara berjamaah, diikuti khutbah yang menyentuh hati tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dan bertaubat atas kerusakan yang terjadi.
* Doa qunut nazilah khusus untuk memohon hujan dan mengangkat bencana karhutla.
* Ajakan kepada seluruh peserta untuk terus berdoa dan tidak putus asa dalam menghadapi musibah.
* Pesan untuk memperkuat iman dan kepedulian sosial, sebagai bentuk pertanggungjawaban manusia terhadap lingkungan.

Bukan Sekadar Doa, Upaya Nyata Terus Berjalan

Meski melibatkan dimensi spiritual yang kuat, Korem 091/ASN memastikan bahwa upaya penanggulangan karhutla secara praktis tidak pernah berhenti. Sejak awal musim kemarau, tim gabungan TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, dan relawan telah gencar melakukan berbagai langkah mitigasi dan penindakan. Seperti yang telah diberitakan sebelumnya dalam beberapa artikel lokal, operasi pemadaman dan patroli pencegahan terus ditingkatkan, terutama di wilayah-wilayah rawan.

Upaya nyata yang terus dilakukan meliputi:

* Patroli Terpadu: Intensifikasi patroli darat dan udara untuk mendeteksi titik api sedini mungkin dan mencegah pembakaran lahan baru.
* Sosialisasi dan Edukasi: Kampanye berkelanjutan kepada masyarakat tentang bahaya karhutla dan pentingnya tidak membakar lahan untuk pembukaan kebun atau pertanian.
* Penegakan Hukum: Tindakan tegas terhadap pelaku pembakaran lahan, sebagai efek jera agar kejadian serupa tidak terulang.
* Kesiapsiagaan Tim: Penyediaan peralatan pemadaman yang memadai dan kesiapsiagaan tim respons cepat untuk bergerak ke lokasi kebakaran.

Menghadapi Ancaman Karhutla Jangka Panjang

Salat Istisqa ini mengingatkan bahwa penanggulangan karhutla memerlukan pendekatan holistik, menggabungkan strategi konvensional dengan dimensi spiritual. Krisis lingkungan yang disebabkan oleh karhutla bukan hanya persoalan teknis, melainkan juga cerminan dari hubungan manusia dengan alam. Oleh karena itu, di samping doa dan upaya pemadaman, diperlukan pula komitmen jangka panjang dari semua pihak.

Komitmen tersebut mencakup:

* Penguatan Kebijakan: Regulasi yang lebih ketat dan implementasi yang konsisten terhadap larangan pembakaran hutan dan lahan.
* Restorasi Ekosistem: Program rehabilitasi lahan gambut dan kawasan hutan yang rusak untuk mengurangi risiko kebakaran di masa depan.
* Pemberdayaan Masyarakat: Mendorong praktik pertanian berkelanjutan dan alternatif mata pencaharian yang tidak merusak lingkungan.
* Adaptasi Perubahan Iklim: Kesiapsiagaan menghadapi perubahan pola iklim yang dapat memperparah musim kemarau.

Dengan kombinasi ikhtiar lahiriah dan batiniah, diharapkan Kalimantan Timur dapat segera terbebas dari ancaman kabut asap dan kembali menikmati udara bersih, serta ekosistem yang lestari. Kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat menjadi kunci utama untuk mewujudkan harapan tersebut.