Judul Artikel Kamu

Potongan Video Ustadz Abdul Somad ‘Sentil’ Pidato Prabowo Subianto Soal Jati Diri TNI

Sebuah potongan video yang menggabungkan pidato calon presiden nomor urut 2 (pada masa kampanye), Prabowo Subianto, dengan ceramah Ustadz Abdul Somad (UAS) mendadak viral di media sosial.

Video tersebut menyoroti kontras antara pernyataan Prabowo mengenai identitas militernya dengan materi ceramah UAS tentang kerendahan hati.

Prabowo: “Saya Lebih TNI dari Banyak TNI”

Dalam cuplikan pertama, terlihat Prabowo Subianto menyampaikan pidato dengan nada tegas.

Ia menekankan dedikasi dan latar belakangnya di dunia militer sebagai bukti loyalitasnya kepada negara.

“Bukan saya tidak percaya. Saya ini TNI, Pak. Saya pertaruhkan nyawa di TNI. Saya lebih TNI dari banyak TNI,” ujar Prabowo dalam potongan pidato tersebut.

Pernyataan ini merujuk pada klaim dirinya yang merasa memiliki jiwa prajurit yang sangat kuat dibandingkan pihak lain.

Sentilan UAS Empat Golongan yang Suka Berkata “Saya”

Video tersebut kemudian disambung dengan cuplikan ceramah Ustadz Abdul Somad yang membahas mengenai sifat sombong atau ego dalam Islam, khususnya penggunaan kata “Saya” secara berlebihan.

Dalam ceramahnya, UAS menyebutkan ada empat sosok atau golongan yang dalam sejarah (dan literatur agama) dikenal selalu membanggakan diri dengan kata “Saya”:

  1. Setan (ketika menolak tunduk kepada Nabi Adam).
  2. Firaun (yang mengaku sebagai tuhan).
  3. Qarun (yang sombong karena kekayaannya).
  4. Bapak” (sebagai sindiran jenaka kepada pendengar atau sosok yang sedang disindir).

“Kalau ada orang ngomong ‘saya, saya, saya’, kasih tahu sama dia Pak, yang selalu ngomong saya itu ada empat. Pertama Setan, kedua Firaun, ketiga Qarun, yang keempat siapa? Bapak,” ucap UAS yang disambut gelak tawa jamaah.

Respons Warganet

Video yang diunggah dengan tagar #presidenomonomon ini memicu beragam reaksi dari warganet. Sebagian menganggap video ini sebagai pengingat agar para pemimpin tetap rendah hati, sementara sebagian lainnya menilai penggabungan dua video tersebut adalah upaya framing politik untuk menyudutkan salah satu pihak.

Hingga berita ini diturunkan, video tersebut telah ditonton ribuan kali dan terus dibagikan di berbagai platform media sosial seperti TikTok dan Instagram.